Sebelum memahami Samawa, ada baiknya ketahui makna pernikahan

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA – Ketika kerabat atau saudara yang menikah, kita kerap mendoakan mereka dengan menyebutkan sakinah, mawaddah, dan warrahmah atau disingkat samawa. Apa sesungguhnya makna dari samawa?

Sebelum masuk dalam penjelasan samawa, ada baiknya ketahui makna ijab kabul. Menurut Imam Syafii, ada perut ikatan yang digunakan Alquran buat mensahkan hubungan antara pria serta wanita, yaitu nikah dan zawaj. Nikah itu berarti menyatukan pria dan wanita. Menyatu bukan hanya fisik, melainkan cita-cita, langkah, bahan, dan arah. Sementara zawaj mempunyai makna bersanding.

“Zawaj dalam bahasa Alquran bersanding. Bersanding ini merupakan dua hal yang berbeda tetapi saling membutuhkan. Perkawinan terdiri dari dua orang bertentangan jenis kelaminnya, menyatu dengan pertalian. Berjalan bersama tapi jangan sesekali melebur kepribadian dan saling menuntut, ” kata Pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ), Prof. M. Quraish Shihab dalam video bertajuk Pernikahan dalam Islam di kanal Youtube Najwa Shihab.

Di pernikahan, harus ada tiga hal, yaitu sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Sakinah berarti ketenangan batin dan ketenangan pikiran.

“Orang yang keluar rumah untuk hidup itu macam-macam pikirannya. Saat dia pulang hendak bertemu istrinya, tempat mendapat ketenangan. Istri juga memerlukan ketenangan sehingga saat suami keluar bekerja dia tahu suaminya tidak neko-neko, ” kata dia.

Selain sakinah, perlu pula mawaddah. Banyak yang menerjemahkan mawaddah adalah cinta. Namun, arti sebenarnya tidak sekadar cinta. Mawaddah adalah kecintaan kepada seseorang yang disertai dengan kosongnya jiwa dari syak buruk. Keburukan pasangan dianggap jalan. Suami atau istri ketika menikah diharapkan agar keduanya terjalin mawaddah sehingga tidak terlihat keburukan.

“Rasa mawaddah tidak mampu didapatkan dengan otomatis, harus diperjuangan. Setiap orang harus sadar tempat mempunyai kekurangan sehingga sebelum melihat kekurangan pasangannya, dia harus sadar punya juga, ” ucap tempat.

Terakhir, warrahmah dengan berarti keperihan hati melihat ketidakberdayaan seseorang. Keperihan itu yang mendorong untuk memberdayakannya.