Rasul Muhammad mampu memberikan manfaat dari hartanya kepada umat.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Dari sekian banyak sunnah Nabi yang tercerai, salah satunya adalah meniru petunjuk beliau dalam persoalan harta. Rasul Muhammad SAW yang merupakan distributor, sukses menjalankan aktivitas ekonominya & mampu memberikan manfaat dari hartanya kepada umat.

Pada buku Harta Nabi karya Abdul Fattah As-Samman dijelaskan, Islam merupakan sebuah agama kenikmatan karena nikmat-nikmat Tuhan dan rezeki-Nya diperbolehkan dinikmati sebab setiap hamba. Dan Allah, mendahulukan umat Islam dalam menikmati semua tersebut.

Islam bukanlah keyakinan yang memerintahkan pada penderitaan & kemiskinan. Melainkan agama yang melimpahkan kemakmuran hidup dan kebahagiaan kepada pemeluknya. Memanfaatkan keberkahan-keberkahan langit & bumi, serta memakan segala segalanya yang ada di atas serta bawah mereka.

Tuhan berfirman dalam Alquran Surah An-Nahl ayat 97: “ Man amila shalihan min dzakarin aw untsa wa huwa mu’minun, fa lanuhyiyannahu hayawatan thayyibatan wa la najziyannahum ajrahum bi ahsani maa kaanu ya’malun , ”. Dengan artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan, tertib laki-laki maupun perempuan dalam kejadian beriman, maka pasti akan Awak berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih cantik dari apa yang telah mereka kerjakan, ”.

Itulah mengapa umat Islam dianjurkan memeriksa harta kekayaan dengan jalan yang halal dan dapat memperoleh kekayaan kekayaan. Agar hartanya dimanfaatkan demi jalan kebaikan. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi.

Dalam fase hidup Nabi, iklim finansial beliau semakin menanjak. Kebesaran dan finansial yang beliau mempertemukan pun tidak dinikmati seorang diri. Nabi membelanjakan harta-hartanya ke beraneka macam aspek, dan tak seluruhnya dibelanjakan di jalan dakwah. Nabi serupa membelanjakan hartanya untuk anak serta istri-istri, fakir miskin, hingga membelanjakannya untuk memberikan hadiah kepada orang-orang tertentu.