Sikap anti-Islam yang ditunjukkan Emmanuel Macron runtuhkan keagungan Barat.

REPUBLIKA. CO. ID, Oleh Imas Damayanti, jurnalis Republika. co. d

JAKARTA – Di kala kegelapan atau orang Eropa lebih senang disebut sebagai Abad Pertengahan, Eropa berbenah dan bergerak daripada kebodohan menuju gempita ilmu wawasan. Transformasi sosial, budaya, sains digelorakan. Para intelektual mulai tumbuh dan berkembang menyuarakan hal-hal baru, reformis, dan bermartabat bagi peradaban pengikut manusia.

Eropa sebelumnya sungguh terbelenggu dengan dominasi gereja. Pengaruh gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan, banyak kebijakan dengan dibuat pemerintah dengan intervensi gereja. Jika tidak sesuai dengan keputusan gereja, maka apapun yang diterapkan akan mendapat balasan yang sewenang-wenang.

Misalnya merupakan pembunuhan Copernicus yang mencetuskan teori helio centris, yakni paham melanggar tata surya yang berpusat pada matahari. Sementara kepercayaan gereja era itu menyebutkan bahwa pusat peraturan surya adalah bumi. Selain Copernicus, korban-korban lainnya pun banyak bertetesan seiring dengan dianggap menyimpangnya adicita ilmu pengetahuan mereka dari gereja.

Tak sedikit pula para-para intelektual yang enggan menerima ideologi mitos dan tahayul sebagai arah dari ajaran Ibrahim. Isaac Newton dalam bukunya The Philosophical Origins of Gentile Theology menyebut bahwa agama Ibrahim adalah agama yang tak mengajarkan paham tahayul. Perenungan terhadap rasionalitas pun dijunjung tinggi Ibrahim sebagai medium menemukan Tuhan.

Kemudian, filsafat humanisme dalam bentuk ideologi tersebar secara psikologis kepada masyarakat Eropa yang hidup dalam zaman pertengahan. Humanisme inilah yang dijadikan dasar kebebasan berpendapat serta mengaktualisasikan diri dengan tidak memberangus kemanusiaan orang lain. Lambat laun, paham ini kemudian lebih familier dengan sebutan hak asasi pribadi (HAM).

Meskipun jika ditarik lebih jauh, perjalanan sejarah PEDOMAN telah ada jauh sebelum abad tersebut. Khususnya bagi umat Agama islam, paham HAM bukan dicetuskan Eropa di Abad Pertengahan. Paham itu justru muncul dan disebarluaskan Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang dijabarkan dalam buku Muhammad Sang Ideal karya Abdurrahman As-Syarqawi.

Konsep HAM dalam Islam adalah dengan jalan apa manusia dipandang sama rata, apapun jabatannya, rasnya, bahasanya, di sisi Allah SWT kecuali takwa dan imannya. Manusia boleh mendapatkan haknya, namun juga harus mengingat dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang saya. Nabi Muhammad lah pelopor yang memperjuangkan kemanusiaan sebagaimana pesan sejak Langit.

Nabi membebaskan budak-budak dari sistem jahiliyah di masanya, memberikan hak kepada wanita buat menyuarakan aspirasi, mengatur sistem seks yang berkeadilan, hingga mengakomodasi pemikiran-pemikiran brilian kaum marjinal. Tak heran misalnya, banyak dari sahabat-sahabat Rasul yang tadinya merupakan seorang kawula atau orang-orang miskin.

Tentu selalu konsep HAM Barat dengan Islam sangat berbeda. HAM bukan bermanfaat bebas sebebas-bebasnya dengan menanggalkan privilese orang lain, begitulah umat Islam diajarkan.

Di satu sisi, aliran renaissance memang membangkitkan gelora menimba pengetahuan, seni, dan budaya yang begitu istimewa. Namun berbarengan dengan tersebut, masyarakat Eropa menjadi skeptis kepada agama. Tak sedikit dari itu yang berpikir bahwa agama merupakan suatu hal yang akan memberangus ilmu pengetahuan.

Ucapan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyatakan bahwa Islam mengalami krisis sepatutnya layak disandingkan dengan pemikiran Karl Marx soal agama. Macron yang mengaku sebagai umat beragama yang demokratis itu kemungkinan sudah patut disandingkan dengan tokoh komunisme itu.

Karl Marx dalam bukunya berjudul Economic and Philosophical Manuscript menyebutkan bahwa agama merupakan gejala umum yang sakit. Agama bagi Karl Marx adalah candu yang mampu merusak tatanan sosial.

Dan bagi Macron, Islam sebagai agama telah membuat penganutnya merasai krisis. Baginya, terorisme erat kaitannya dengan ajaran Islam. Lupa bahwa dari 1, 3 miliar pengikut Islam di dunia, sebagian gede dari itu berprofesi sebagai insan-insan berprestasi dan menjunjung tinggi penerimaan.

Alih-alih menyebut Macron sebagai umat beragama, barangkali ia layak disebut sebagai penganut sekularisme ataupun bisa jadi tak beragama sepadan sekali. Dalam buku Wajah Peradaban Barat karya Cendikiawan Islam Adian Husaini dijelaskan, bagi banyak kaum Kristen, sekularisasi nampaknya menjadi satu keharusan yang tidak dapat ditolak.

Sekularisme tumbuh di Eropa akibat adanya trauma dominasi gereja di masa lalu, sistem itu pada akhirnya menjadi penawar sekaligus racun bagi umat Kristen modern.

Dan lagi-lagi saat itu, setelah Trump dan berbagai elite politik dunia menumbuhkan Islamofobia, saat ini seorang pemimpin di negara lulus yang menggaungkan gerakan renaissance sah menggelikan. Seolah bayangan keagungan renaissance runtuh dari sosok Macron yang rasis.