REPUBLIKA. CO. ID, — Arkeolog di mesir mengatakan Sabtu mereka telah menemukan 59 sakofagus (peti mati kayu) yang diawetkan dengan baik & tertutup selama beberapa pekan belakang. Peti mati kayu ini telah terkubur lebih dari 2. 500 tahun yang lalu.

Membuka salah kepala sarkofagus yang dihias dengan hiasan sebelum media berkumpul, tim mengungkapkan sisa-sisa mumi yang dibungkus secara kain penguburan dengan tulisan hieroglif dalam warna-warna cerah.

Penemuan dramatis itu digali dalam selatan Kairo di kuburan Saqqara yang luas, pekuburan ibu kota Mesir kuno Memphis, sebuah kedudukan yang sudah dinyatakan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

“Kami sangat senang dengan penemuan ini, ” kata Mostafa Waziri, penulis jenderal Dewan Purbakala Mesir.

Sejak penemuan 13 peti mati pertama diumumkan hampir tiga minggu lalu, lebih banyak lagi yang telah ditemukan di lubang di kedalaman hingga 12 meter (40 kaki).

Sejumlah peti mati tambahan yang tak diketahui mungkin masih terkubur pada sana. Menteri Pariwisata dan Purbalaka Mesis, Khaled al-Anani, mengatakan di situs itu, dekat piramida Djoser yang berusia 4. 700 tahun.

“Jadi hari ini bukan akhir dari penemuan, kami anggap itu awal dari penemuan besar, ” ujarnya.

  • Keterangan foto: Sebuah gambar yang diambil pada 3 Oktober 2020 menunjukkan anggota misi diplomatik di Mesir menghadiri konferensi pers untuk mengungkap penemuan baru di pekuburan Saqqara, 30 km selatan ibu praja Mesir, Kairo. (AFP)

“Peti asal, yang disegel lebih dari dua. 500 tahun yang lalu, datang dari Periode Akhir Mesir arkais, dari sekitar abad keenam ataupun ketujuh SM, ” tambah gajah itu.

Penggalian di Saqqara dalam beberapa tahun terakhir telah menemukan banyak artefak beserta mumi ular, burung, kumbang scarab, dan hewan lainnya.

Penemuan peti mati tersebut merupakan pengumuman besar pertama sejak pagebluk COVID-19 di Mesir, yang menimbulkan penutupan museum dan situs arkeologi selama sekitar tiga bulan berangkat akhir Maret.

Anani mengatakan semua peti mati mau dibawa ke Museum Besar Mesir (GEM) yang akan segera dibuka di dataran tinggi Giza.

Mesir berharap kesibukan penemuan arkeologi dalam beberapa tahun belakang dan GEM akan meningkatkan zona pariwisata vitalnya, yang telah menjalani banyak guncangan sejak pecahnya Revolusi Musim Semi Arab 2011 hingga yang terakhir adanya pandemi covid-19.