Masyarakat perlu berhati-hati memastikan produk dan layanan keuangan yang ditawarkan.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai perlindungan konsumen merupakan satu diantara fondasi dasar dalam membikin industri keuangan yang kokoh di Tanah Air. Mengenai peran consumer protection di menjaga kepercayaan masyarakat atau trust sangat penting, sebab trust merupakan prasyarat bagi pengembangan industri jasa keuangan.

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Bahar mengatakan, semakin masifnya digitalisasi sektor jasa keuangan, semakin memudahkan masyarakat melakukan bertransaksi dan menciptakan sebuah ragam hidup baru.  

“Dengan berbekal bagian internet secukupnya, masyarakat bisa melakukan transaksi keuangan dalam mana saja dan teks saja. Namun ibarat besar sisi mata uang, perlu diperhatikan pula sisi asing dari dunia digital di bidang keuangan, ” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (21/4).

Dengan tingkat literasi digital masyarakat yang sedang rendah, seringkali OJK menyambut pengaduan konsumen mulai dari kasus yang sederhana seperti pencurian PIN atau one time password (OTP) yang sering dilakukan pula menggunakan telepon, hingga kejahatan yang sangat kompleks.

“Tentu saja kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Keburukan yang ditimbulkan oleh kesalahan keuangan secara digital dapat mengakibatkan kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan kekejaman keuangan konvensional. Lebih sebab itu, kejahatan di negeri maya ini dapat menggunakan siapapun dan bisa tanpa disadari oleh sang pemilik dana, ” ucapnya.

Seiring dengan berkembangnya digitalisasi sektor jasa keuangan, Tirta pun menyebutkan dua tantangan yang dihadapi oleh konsumen atau masyarakat. Baru, masyarakat perlu meningkatkan interpretasi tentang digitalisasi produk serta layanan keuangan, sehingga bisa menggunakan layanan keuangan dengan optimal sekaligus memahami laba, risiko, serta hak & kewajibannya selaku konsumen.

“Dengan pemahaman digital yang memadai, konsumen tidak akan mudah ditipu ataupun jadi korban kejahatan digital, ” ucapnya.

Kedua, masyarakat juga kudu selalu berhati-hati dan bijak dalam memilih produk ataupun layanan keuangan termasuk dalam menyikapi tawaran-tawaran investasi dengan tidak logis yang semakin marak ditawarkan pada masa pandemi dan juga tawaran-tawaran pinjaman dana yang selayaknya mudah tapi biaya-biaya & bunganya mencekik leher.

“Oleh karena itu, OJK akan terus meningkatkan kemampuan literasi keuangan konsumen dan masyarakat, yang tetap saja dipadukan dengan kepandaian literasi digital mereka, jadi modal penting bagi para-para konsumen dalam menghadapi digitalisasi sektor jasa keuangan, ” ucapnya.

Hari Konsumen Nasional yang jatuh pada 20 April, sendat Tirta, juga diharapkan dapat menjadi momentum guna memajukan kepercayaan masyarakat terhadap buatan dan layanan keuangan dengan pada akhirnya mampu berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi nasional. Tirta menambahkan, bagi karakter usaha jasa keuangan (PUJK) sendiri, perkembangan teknologi keuangan berpotensi menimbulkan dirupsi kalau PUJK tidak mau beradaptasi atau melakukan perubahan.