Kebijakan PSBB bisa diperketat dengan membatasi mobilitas warga.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Lembaga penelitian Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memajukan pemerintah untuk lebih berani sedang untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara lebih saksama di tengah lonjakan kasus Covid-19. IDEAS paparkan pengetatan PSBB benar bisa tekan angka kematian akibat Covid-19.

“Ini dengan kami coba rekomendasikan kepada negeri agar lebih berani untuk menarik rem darurat yang saat itu baru diterapkan di Jakarta sama Banten, ” kata peneliti IDEAS Fajri Azhari dalam diskusi maya bertema New Normal dan Emergency Brake Policy, Jakarta, Jumat (11/9).

Fajri mengatakan hati itu disampaikan mengingat kasus Covid-19 yang terus melonjak drastis & masih tingginya risiko penularan pada tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa berdasarkan runutan jumlah kematian harian akibat Covid-19, tingkat kematian karena wabah tersebut terus meningkat berbarengan dengan pelonggaran terhadap kebijakan PSBB untuk memulihkan kegiatan ekonomi.

Angka kematian harian selama PSBB, yang tercatat pertama kali pada awal pandemi, kata dia, rata-rata ada 26 kasus. Lalu pada saat penerapan new normal atau pada masa PSBB transisi tingkat kematian bertambah seiring dengan penambahan kasus positif sebelumnya, yaitu dari 26 kasus bertambah menjelma 49 kasus per hari, lalu naik lagi menjadi 73 kejadian dan terakhir bertambah menjadi kira-kira 80 kasus kematian.

“Artinya di sini sebetulnya masa pemerintah mengambil keputusan untuk new normal, maka itu merupakan sebuah pertaruhan besar terkait dengan kesejahteraan nyawa warga Indonesia. Di mana sebenarnya menurut panduan kesehatan WHO, salah satu syarat utama dengan harus dipenuhi suatu negara untuk menerapkan new normal itu ialah dapat mengendalikan pandemi dengan dibuktikan secara ilmiah bahwa penyebaran ataupun laju pertumbuhan Covid-19 bisa turun atau bahkan tidak ada local transmission sama sekali, seperti Thailand dan Vietnam atau Taiwan. Itu mereka benar-benar new normal dengan terstandar oleh WHO. Kalau Nusantara new normal yang belum menutup standar WHO, ” katanya.

Untuk itu, ia menekankan bahwa semakin tinggi tingkat efek dan semakin buruk situasi kasus Covid-19 di suatu daerah, maka seharusnya pembatasan sosial yang diterapkan juga harus semakin ketat.

Oleh karena itu, IDEAS mendorong pemerintah untuk lebih memperketat kebijakan PSBB dengan membatasi pergeseran penduduk yang dilakukan aparat tingkat RT dan RW. Kemudian, negeri juga didorong untuk lebih memperketat restriksi perjalanan internasional yang non-esensial mengingat kemunculan kasus Covid-19 dimulai dari kasus impor dari sungguh negeri.

“Kemudian, seandainya suatu daerah menemukan kasus secara sporadis, yaitu kasus yang muncul secara random di daerahnya, maka perlu ada peringatan yang dilakukan negara tersebut dengan skala kelurahan atau desa, ” demikian logat Fajri.

sumber: Antara