Penanganan Densus 88 terhadap pelaku teror saat ini terlihat ada perubahan besar.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Pengamat kepolisian Dr Edi Saputra Hasibuan mengatakan penangkapan para-para pelaku terorisme oleh Detasemen Istimewa (Densus) 88 Anti Teror Polri kini lebih menggunakan sikap humanis dan tidak dilakukan secara terbuka. “Penanganan Densus 88 terhadap karakter teror kini terlihat ada modifikasi besar. Kita melihat setiap penegakan hukum terhadap pelaku teror kini lebih mengedepankan tindakan yang humanis dan menghindari penegakan hukum terkuak, ” katanya di Jakarta, Minggu (13/12).

Mantan bagian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) tersebut mengatakan penegakan hukum terbuka selama ini banyak dikritisi masyarakat sebab cenderung kurang menjunjung tinggi hak azasi manusia (HAM).

Dalam keterangan tertulisnya, Edi mengapresiasi kinerja Densus 88 Anti Teror Polri yang kini dipimpin Irjan Pol Martinus Hukom karena melakukan penegakan hukum dengan jalan lebih humanis.

Pada 10 Desember 2020, Densus 88 Anti Teror Polri menangkap Zulkarnain, pelaku teror pada bom Bali I tahun 2002. Buronan selama 18 tahun ini ditangkap tanpa perlawanan di Kabupaten Lampung Timur. Dia merupakan salah satu tokoh yang bertanggung jawab akan tragedi bom Bali I.

Tersangka ini diduga juga terkebat aksi teror di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah dan Ambon. Dia diduga juga menyembunyikan pelaku teror lain, yakni Upi Lawanga dengan telah tertangkap sebelumnya.

Pra menangkap Zulkarnain, Densus 88 Polri juga menangkap Taufik Bulaga alias Upik Lawanga yang telah bersembunyi di Lampung Tengah, lewat proses yang digelar pada 23 November 2020.

Upik Lawanga diduga terlibat serangkaian aksi terorisme Poso pada 2004-2006, dan memiliki keahlian merakit bom. Edi juga mengapresiasi temuan Densus 88 Anti Teror soal kotak amal yang ditaruh di tempat umum menjadi sumber dana terorisme.

“Kotak jasa ini mengatasnamakan untuk bantuan budak yatim dan sumbangan kemanusiaan, ” kata dosen di Universitas Bhayangkara ini.

Dia minta Polri menggandeng tokoh agama untuk mengabulkan penertiban kotak amal yang terbukti disalahgunakan bukan untuk tujuan kemanusiaan.

 

sumber: Antara