Pentingnya upaya global yang terkoordinasi dengan baik untuk pemulihan ekonomi

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA–Perekonomian ijmal diperkirakan makin baik tetapi masih diikuti oleh kesenjangan yang tinggi antarnegara. Keberlanjutan pemulihan ekonomi tidak cuma dilandasi pada keberhasilan pada penanganan pandemi dan rencana vaksinasi, namun juga bergantung pada efektivitas respons kebijakan yang ditempuh.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan pentingnya jalan global yang terkoordinasi dengan baik untuk dapat terus mendorong pemulihan ekonomi. Mengikuti mendorong inklusivitas dalam perluasan ekonomi dan sektor keuangan yang berwawasan lingkungan.

Hal tersebut mengemuka dalam rangkaian Pertemuan Musim Semi International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank) termasuk didalamnya pertemuan Menteri Keuangan serta Gubernur Bank Sentral negara G20 yang diselenggarakan dengan virtual pada 1-8 April 2021 dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan RI,   Sri Mulyani Indrawati.

Pemulihan ekonomi global menghadapi sejumlah faktor efek, antara lain, peluang balik merebaknya pandemi, pengetatan kondisi keuangan global, dampak ekonomi dari pandemi yang berlangsung lama, munculnya permasalahan baik, meningkatnya bencana alam, serta risiko geopolitik.

Dalam menghadapi risiko tersebut, IMF menyarankan supaya respons kebijakan disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan ekonomi di masing-masing negara. Di tahap keluar dari genting, upaya perlu difokuskan di dalam pengeluaran di sektor kesehatan tubuh, dukungan fiskal yang pantas target, kebijakan moneter akomodatif, dan memantau risiko terhadap stabilitas sektor keuangan.

Selanjutnya, pada tahap menjaga pemulihan, upaya perlu difokuskan pada penambahan kapasitas produktif dan dorongan untuk alokasi sumber gaya yang efisien. Sementara itu, untuk jangka panjang upaya perlu difokuskan pada penguatan kerja sama internasional, perombakan kerangka kebijakan, serta penanganan perubahan iklim.

IMF memproyeksikan perekonomian global tumbuh sebesar 6, 0 persen pada 2021, kemudian mengalami moderasi kemajuan ke 4, 4 komisi pada 2022. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kebijakan pada beberapa negara maju dan berlangsungnya program vaksinasi di berbagai negara.

Ke depan, IMF menyatakan bahwa perkembangan ekonomi akan banyak dipengaruhi sebab perkembangan pandemi, respons kebijakan yang diterapkan, perkembangan zona keuangan dan harga komoditas global, serta kapasitas ekonomi untuk melakukan penyesuaian terhadap berbagai tantangan di sektor kesehatan.

Dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Pokok negara G20, secara ijmal negara G20 berkomitmen buat mendukung pemulihan ekonomi global, mengatasi ketimpangan, meningkatkan ketahanan sistem keuangan serta memajukan pemulihan ekonomi yang berwawasan lingkungan. Dalam hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia menanggung upaya global untuk memperkuat resiliensi sektor keuangan dengan memperhatikan perbedaan karakteristik di setiap negara.

“Perlunya kehati-hatian pada melakukan asesmen penarikan sokongan kebijakan untuk memitigasi efek penarikan dukungan kebijakan dengan terlalu cepat, ” katanya.

Pada sela-sela Pertemuan Musim Semi tahun ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menyampaikan visi singkat Bank Indonesia dalam mengatasi efek dari pandemi melalui sinergi kebijakan dan koordinasi yang erat antara Bank Sentral, Pemerintah, dan otoritas terkait lainnya dalam rangka membakar pemulihan dan menjaga stabilitas perekonomian.