Orangtua untuk mulai mengenalkan puasa pada anak sejak usia empat tahun.

REPUBLIKA. CO. ID,   JAKARTA — Wujud sahur bisa menjadi kegiatan khusus selama Ramadhan dengan mungkin menantang bagi pengampu karena buah hati kudu bangun jauh lebih cepat dari biasanya. Psikolog tanggungan Ayoe Soetomo mengungkapkan kiat agar anak tidak sulit bangun sahur.

Ayoe menuturkan, orangtua sebaiknya memberi tahu soal sekitar sahur dan Ramadhan sejak jauh-jauh hari agar anak sudah mempersiapkan diri dan tahu dirinya harus wujud lebih pagi agar berpengaruh berpuasa. “Sebaiknya ajak bani mengetahui puasa Ramadhan sejak jauh-jauh hari atau kurang hari sebelum puasa supaya anak tidak sulit wujud sahur, ” kata Ayoe dalam webinar kesehatan, ditulis Sabtu (17/4).

Misalnya, mulai bercerita tentang kisah-kisah agama laksana cerita para nabi jelang tidur. Berbincanglah dengan pokok hati bahwa sebentar lagi umat muslim akan melakukan puasa Ramadhan yang membabitkan aktivitas sahur.  

Jelaskan apa kegunaan sahur dan jam berapa bujang harus bangun selama bulan puasa. Agar anak bertambah tertarik dan bersemangat untuk belajar beribadah selama Ramadhan, libatkan juga anak pada diskusi soal menu dahar sahur.

“Biar tidak sulit, sebab malam sudah ajak ngobrol, ‘besok kita sahur sungguh jadi harus bangun pagi’. Atau ajak bantu siapkan menu masakan, lalu tanya mau menu apa, ” katanya.

Jika anak sudah siap dan bersemangat untuk pertarakan, aturlah jam tidur biar anak tidak lebih semoga dibangunkan pada dini keadaan. Dia menyarankan orangtua buat mulai mengenalkan puasa dalam anak sejak usia empat tahun.

Cara mengenalkannya bukan dengan mengharuskan dia berpuasa dengan penuh, tapi mengetahui rutinitas puasa seperti sahur dalam pagi hari, juga kewajiban untuk menahan haus serta lapar hingga waktunya berbuka puasa. Secara perlahan, bersamaan bertambahnya usia, ajak anak untuk belajar berpuasa berangkat dari setengah hari hingga akhirnya bisa berpuasa mematok sehari penuh.

“Sesuaikan sama piawai saja, jangan paksa anak yang masih terlalu mungil. Kalau dirasa kuat, tak apa-apa dilanjutkan untuk bertarak. ”

Ketika anak sedang menelaah puasa, ada kalanya tempat akan merasa tergoda buat berbuka sebelum waktunya. Buat anak yang fisiknya sudah kuat untuk belajar puasa, anak bisa membuat itu “lupa” dengan rasa lapar dan haus lewat aktivitas-aktivitas menarik dan menyenangkan sesuai bermain.

Satu hal lain yang tidak boleh dilupakan orang tua adalah mengasosiasikan puasa dan bulan Ramadhan sebagai kegiatan yang menyenangkan karena ada aktivitas seperti shalat tarawih berjamaah di rumah atau buka puasa bersama di rumah bersama orangtua. Dengan demikian, puasa tak menjadi beban berat bagi anak dan mereka mampu menjalaninya dengan riang bahagia.

sumber: Antara